RESELLER: MESIN TAK TERLIHAT DARI E-COMMERCE INDONESIA

FRANCHISEGLOAL.COM-Indonesia sedang naik daun di ranah e-commerce, dengan lonjakan yang membawanya ke peringkat sembilan pasar e-commerce terbesar di dunia pada 2021. Dengan nilai mencapai $43 miliar, atau kalau dirupiahkan jadi Rp 645 triliun—mengacu pada kurs sekarang, yakni Rp 15.000 per dolar AS—Indonesia bukan hanya bermain-main di kancah lokal, tapi juga sudah menancapkan pengaruhnya di panggung global.

Namun, di balik pertumbuhan yang luar biasa ini terdapat sekelompok besar pedagang yang sering terabaikan: para reseller. Mereka menyumbang perkiraan 85 persen dari semua pedagang online di Indonesia, namun sering kali tidak mendapatkan perhatian atau sumber daya yang memadai dari perusahaan barang konsumen, pengecer, dan platform e-commerce.

Di Indonesia, sekitar 4,5 juta reseller pada akhir 2017 umumnya merupakan UMKM yang mendominasi pasar e-commerce. Mereka beroperasi dengan membeli barang untuk dijual kembali, bukan untuk keperluan pribadi.

Sering kali, mereka mendapatkan inventaris dari perantara, bukan langsung dari produsen. Kondisi ini membuat posisi mereka kurang menguntungkan dibandingkan distributor. Distributor mendapat berbagai keuntungan seperti diskon volume dan akses ke alat pemasaran.

Para reseller ini menghadapi berbagai tantangan yang menghambat potensi pertumbuhan mereka, seperti margin yang terjepit, kurangnya pengetahuan tentang permintaan dan pengaruh terhadap harga, visibilitas yang rendah, serta kinerja yang fluktuatif dalam e-commerce sosial.

Sebuah studi mckinsey tahun 2023 mengungkapkan bahwa kebutuhan yang tidak terpenuhi ini mewakili peluang yang signifikan—terutama bagi perusahaan barang konsumen dan platform e-commerce—yang diperkirakan mencapai nilai Gross Merchandise Value (GMV) sebesar $115 miliar hingga $125 miliar.

Gross Merchandise Value merupakan ukuran total nilai penjualan barang dan jasa yang diperjualbelikan melalui suatu platform selama periode tertentu tanpa mengurangi biaya seperti pengiriman, diskon, dan pengembalian. Dalam konteks GMV senilai $115 miliar hingga $125 miliar hal itu menunjukkan total nilai barang yang dijual oleh reseller di platform e-commerce selama periode tersebut.

Ada beberapa cara untuk memaksimalkan potensi reseller. Pertama, memberikan akses bertingkat pada platform e-commerce bagi pelanggan B2C dan B2B. Kedua, melakukan pembelian komunitas berbasis data. Ini membantu mengelompokkan dan mengatur permintaan serta sumber daya.

Ini juga bagian dari strategi e-commerce yang lebih luas. Ketiga, sediakan sortimen barang label putih yang sering berganti dan eksklusif untuk reseller. Terakhir, platform e-commerce dapat menyediakan layanan tambahan. Layanan ini membantu reseller meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas jangkauan pelanggan mereka.

Dengan mengimplementasikan strategi-strategi ini, para pemangku kepentingan di sektor e-commerce Indonesia dapat tidak hanya meningkatkan pangsa pasar mereka tetapi juga memberdayakan individu yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian digital dan, secara lebih luas, menguatkan perekonomian dan masyarakat Indonesia.

Karakteristik Reseller

Reseller di Indonesia memainkan peran kunci dalam ekosistem e-commerce, namun sering kali mereka menghadapi berbagai tantangan yang menghambat potensi pertumbuhan mereka. Karakteristik umum reseller di Indonesia, seperti yang diungkap dalam studi terbaru oleh McKinsey, menyoroti beberapa aspek penting yang membentuk kegiatan mereka di pasar digital.

Pertama, reseller adalah mayoritas dalam perekonomian e-commerce di Indonesia. Mereka menyumbang sekitar 85 persen dari semua pedagang online, menjadikan mereka kelompok dominan dalam penjualan digital. Sebagian besar reseller ini adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menawarkan berbagai produk mulai dari barang konsumsi cepat habis hingga peralatan rumah tangga.

Berbeda dengan distributor yang bisa mendapatkan barang langsung dari produsen, reseller biasanya mendapatkan pasokan dari perantara. Hal ini seringkali menempatkan mereka dalam posisi yang kurang menguntungkan karena tidak memiliki akses ke diskon volume atau negosiasi harga yang lebih baik. Mereka juga menghadapi tantangan dalam mengelola inventaris karena keterbatasan akses ke data permintaan dan harga, yang mengakibatkan mereka harus bersaing di pasar yang sangat komoditisasi dengan margin yang sangat tipis.

Selain itu, visibilitas mereka di platform e-commerce sering kali rendah, yang membuat mereka sulit untuk menonjol di antara ribuan penjual lain yang menawarkan produk serupa. Situasi ini diperparah oleh kinerja yang tidak konsisten dari e-commerce sosial (s-commerce), di mana reseller mengalami fluktuasi dalam penayangan, keterlibatan, dan penjualan, terutama saat mengelola logistik pesanan selama siaran langsung.

Namun, meskipun menghadapi banyak hambatan, reseller di Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Potensi Gross Merchandise Value (GMV) dari segmen ini diperkirakan mencapai antara $115 miliar hingga $125 miliar. Kesempatan ini terbuka lebar terutama untuk perusahaan barang konsumen dan platform e-commerce yang bisa mengatasi hambatan yang dihadapi reseller.

Beberapa reseller di Indonesia juga menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka kerap kali berkolaborasi dalam komunitas kecil untuk meningkatkan daya tawar mereka, berbagi inventaris, atau bahkan mengadopsi strategi penjualan baru seperti dropshipping atau menciptakan merek sendiri untuk menonjol di pasar. Pendekatan ini tidak hanya membantu mereka dalam mengatasi beberapa hambatan logistik dan operasional, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membedakan diri dari pesaing.

Dalam konteks yang lebih luas, dengan mengatasi kebutuhan yang belum terpenuhi dari reseller, pemangku kepentingan di sektor e-commerce dapat tidak hanya meningkatkan pangsa pasar mereka tetapi juga memberdayakan individu-individu ini untuk berkembang lebih jauh, yang pada gilirannya akan menguatkan perekonomian digital dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

 

DISCLAIMER
FranchiseGlobal.com tidak bertanggungjawab atas segala bentuk transaksi yang terjalin antara pembaca, pengiklan, dan perusahaan yang tertuang dalam website ini. Kami sarankan untuk bertanya atau konsultasi kepada para ahli sebelum memutuskan untuk melakukan transaksi. Tidak semua bisnis yang ditampilkan dalam FranchiseGlobal.com menerapkan konsep franchise semata, melainkan menggunakan konsep franchise, lisensi, dan kemitraan.

Member of:

Organization Member:

Media Partner:

Our Community: